Efek Farmakologi Bawang Dayak
POM TR No: 143380931
Hasil riset di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut
Pertanian Bogor (IPB), menunjukkan umbi bawang dayak mengandung senyawa naphtoquinonens dan turunannya seperti elecanacine, eleutherine, eleutherol, dan eleuthernone. Naphtoquinones dikenal ampuh sebagai antikanker,
antioksidan, antimikroba, anticendawan, antivirus, dan antiparasitik.
Umbi bawang dayak (eleutherine palmifollia) mengandung
alkaloid, saponin, triterponoid, steroid, glikosida, tannin, fenolik dan
flavonoid. Dari hasil penelitian, triterpenoid dan fenolik dalam umbi bawang
dayak memberikan efek hipoglikemik yang dapat menurunkan kadar gula dalam
darah. Sedangkan flavonoid bersifat sebagai antioksidan yang dapat memelihara
kesehatan tubuh dan kulit.
Bawang Dayak juga memiliki senyawa aktif naphtoquinon eleutherine yang berpotensi sebagai antikanker. Zat aktif tersebut dapat menghambat kerja enzim topoisomerase II yang berperan penting dalam fase replikase dan foliperasi sel kanker.
Penyakit-penyakit yang dapat dibantu penyembuhannya
menggunakan bawang dayak adalah sebagai berikut :
Amandel, Ambeien,
Asam Urat, Bisul, Asma,
Bronkhitis, TBC, Darah Rendah, Hipertensi / Darah
Tinggi, Diabetes Melitus, Epilepsi,
Gangguan Pencernaan Lambung, Gangguan Seksual, Ginjal, Gondok,
Hepatitis, Insomnia, Jantung, segala jenis Kanker : Kelenjar Getah Bening,
Kanker Paru – Paru, Kanker Payudara, Kanker Rahim, Kanker Usus, Keputihan, Kista, Kolesterol, Maag, Migrain, Myom, Obat Muntah, Pelupa /
Menurunnya Fungsi Ingatan, Peluruh Kemih, Pencahar, Prostat, Radang Usus,
Rematik, Sakit Kuning, Sakit Perut, Sakit Pinggang, Stamina, Stroke, Vertigo,
Vitalitas
* Bawang Dayak menjadi foto
sampul dalam Trubus edisi bulan Juli 2013
Info Produk Call/SMS :085 730 278 449
Bawang Dayak Stop Suntik Insulin
Aliyah
Muhdi menggantungkan kesehatan pada insulin untuk
mengontrol gula darah yang membubung. Menjelang tidur, ia meraih alat suntik
mirip pena dan menyuntikkan di lengan kiri. Dosis sekali suntik 14 unit dengan
durasi 6-10 detik. Perempuan 44 tahun itu menyuntikkan insulin ke lengan secara
bergantian setiap malam. Bila malam ini ia menyuntik di lengan kiri, maka esok
malam di lengan kanan begitu seterusnya.Hingga akhirnya seorang rekan
menyarankan untuk konsumsi bawang dayak. Sejak Juni 2012 Aliyah mengonsumsi
masing-masing dua kapsul umbi Eleutherine americana pada pagi dan
sore. Aktivitas menyuntik insulin ia tinggalkan.Tiga hari pascakonsumsi, Aliyah
merasakan perubahan. “Badan terasa segar. Luka di tangan akibat tergores pisau
saat memasak pun mengering,” katanya. Padahal, luka itu biasanya baru sembuh
setelah sepekan. Pada orang normal, luka tergores mengering dalam 2-3 hari.
Kini, tiga bulan setelah rutin konsumsi bawang berlian, kondisi Aliyah membaik
dan bisa menyelesaikan pekerjaan rumahnya seperti mencuci dan mengepel lantai. Meski
kondisinya membaik, Aliyah tetap mengonsumsi bawang berlian, tapi dosis berkurang
hanya 1 kapsul pada pagi dan sore.
Reaksi Kerja Herbal Dalam Tubuh
Orang yang mengonsumsi herbal untuk
pertama kalinya, mungkin akan dikejutkan oleh efek dan reaksi tidak
menyenangkan yang dihasilkannya. Akibatnya, seringkali beberapa orang
menyimpulkan bahwa mereka mengalami keracunan. Mari kita lihat reaksi seperti
apa yang dimaksudkan dalam penjelasan berikut.
Reaksi Obat Herbal
Reaksi yang dimaksudkan di atas,
biasanya akan muncul dalam bentuk yang berbeda-beda pada tiap orang. Terkadang,
pada awal terapi herbal, perut Anda akan terasa seperti dikocok selama satu
atau dua hari, pusing, mual, dan sakit perut mungkin menyertainya. Jika Anda
mengalaminya, jangan khawatir! Secara umum dikatakan bahwa reaksi ini adalah
efek penyesuaian tubuh, dimana tubuh menyesuaikan sistem metabolisme untuk bisa
memanfaatkan pengobatan yang diberikan oleh herbal tersebut dan biasanya akan
hilang setelah beberapa hari.
Selain efek penyesuaian tersebut,
akan ada efek detoksifikasi, dimana tubuh mengeluarkan racun atau zat-zat
berbahaya dari dalam tubuh ketika/setelah menerima pengobatan. Reaksi yang
mungkin muncul adalah batuk-batuk, pilek, demam, gatal-gatal, banyak
mengeluarkan keringat, sering buang air kecil dan besar dan sekali lagi efek
tersebut akan berbeda-beda pada tiap orang.
Jika Anda merasakan reaksi atau efek
yang tidak menyenangkan tersebut, ketika/setelah menggunakan obat herbal, jangan
menyerah dan menghentikan pengobatan yang diberikan, itu sama saja dengan
menghentikan proses pengobatan dan pemulihan. Jika Anda tidak yakin,
konsultasikan dengan ahli herbal Anda dan ikuti petunjuk yang diberikan.
Biasanya, ahli herbal akan menganjurkan Anda mengurangi dosis untuk meringankan
efek tersebut dan memberikan waktu bagi tubuh untuk menyesuaikan diri dengan
bekerjanya obat herbal.
Bagaimana Obat Herbal Bekerja?
Seseorang yang memutuskan untuk
menggunakan obat herbal sebagai pengobatan harus sabar menunggu hasilnya.
Mengapa? Salah satu prinsip kerja herbal adalah reaksi obat herbal yang lambat.
Tidak seperti obat kimia yang bisa langsung bereaksi, reaksi obat herbal dan
manfaatnya umumnya baru dapat dirasakan setelah beberapa minggu atau beberapa
bulan penggunaan. Hal itu disebabkan, senyawa-senyawa berkhasiat di dalam obat
herbal membutuhkan waktu untuk menyatu dalam metabolisme tubuh.